Wednesday, November 7, 2007

Sejarah

CRUSADE WAR (Part 2)

---------------------------------------------------------->>


Crusader pertama yang berhasil merebut Yerusalem dipimpin oleh Godfroy De Bullion seorang Frankish. Proses perebutan kota tersebut memang memang penuh pertumpahan darah. Pasukan Crusader yang kelelahan betul-betul melampiaskan kemarahan terhadap kota yang dipertahankan oleh garnisun Abbasid yang lemah plus kontingen pemanah Sudan yang berjumlah kurang dari seribu personel. Pasukan Crusader membantai seluruh warga muslim dan Yahudi, mambakar semua masjid dan sinagoga (kecuali Dome of Rock/Al-Aqsa) dan hanya membiarkan gubernur kota Al Daulay bersama beberapa orang deputinya saja yg selamat. Menurut beberapa catatan sejarah, mayat2 korban pembantaian itu ditumpuk hingga berbentuk piramida mayat yang tinggi sebelum dibakar diluar tembok kota.

Asal mula pengiriman para Crusader adalah gangguan dan penganiayaan yang dialami para peziarah Kristen di Palestina olah kaum Turki Seljuk yang militan. dan penghancuran gereja2 di Yerusalem pada masa pemerintahan Kalifah Al Hakim dari Mesir.

Ironisnya kaum Turki Seljuk sebenarnya sudah diusir oleh tentara Abbasid dan Yerusalem sudah kembali dipimpin oleh pemerintahan Kalifah Kairo ketika tentara Crusader tiba. Akan tetapi lamanya perjalanan serta miskinnya informasi membuat pemimpin Crusader tidak mendengar pergantian kekuasaan di Yerusalem.




Kaum Crusader mendirikan Kerajaan Latin (Latin Kingdom) di wilayah palestina dengan pusat2 Yerusalem, Tripoli, Antiochia dan Edessa. Kerajaan itu berdiri selama sekitar dua abad sebelum pada akhirnya diusir oleh kaum Mameluke keturunan Turki yang merebut kekuasaan dari dinasti Abbasid di Kairo.

Raja pertamanya adalah Godfroy De Bullion yang diberi gelar 'The Guardian of Holly Sepulcher' adalah juga orang yang memimpin Crusader pertama. Selama lebih dari seratus tahun, Dome of Rock atau masjid Al-Aqsa dijadikan markas sekaligus pusat biara dari Ordo Ksatria Templar yang terkenal (The Knights of Templar) yang namanya diambil dari kata 'Temple' karena masjid Al-Aqsa didirikan diatas reruntuhan kuil Yahudi buatan Salomo/Sulaiman.

Gambaran tentang mulai terusirnya bala-tentara Salib dari Jerusalem berawal dari Palagan Hatiin pada tanggal 4 Juli 1189 dalam Perang Salib yang Ketiga, sembilan puluh tahun setelah jatuhnya Jerusalem.

Setelah mangkatnya raja Baldwin pada tahun 1186, adik iparnya, yakni pangeran Guy de Lusignan, meneruskan kedudukannya berkat dukungan dari para ksatria Templar. Musuh bebuyutan para ksatria Templar, yaitu para ksatria Katholik, Hospitaller Jerusalem, tidak bersedia mendukung Guy. Pimpinan Hospitaller memerintahkan para ksatrianya meninggalkan tempat upacara tatkala berlangsung penobatan Guy menjadi raja Jerusalem.



Salah satu alasan mengapa Guy tidak disukai, terkait dengan peristiwa dua tahun sebelumnya, pada tahun 1184, ketika ia menyerang suatu suku Beduin yang telah membayar upeti kepada kerajaan Kristen Jerusalem, yang memperbolehkan mereka menggembalakan ternaknya di sekitar Jerusalem. Guy dan pasukannya membantai sepuas mereka anggota suku itu dan kemudian mengusir mereka dan ternak gembalaannya untuk meninggalkan tempat tersebut.

Seorang lain lagi yang mempunyai perangai mirip dengan Guy adalah Reynald de Chatillon, seorang pangeran dari Antiochia, yang mengabdi pd raja Louis dari Perancis dalam Perang Salib yang kedua. Setelah pasukan Salib yang lain pulang ke Eropa, Reynald tetap tinggal di Jerusalem dan menjalin hubungan dengan para ksatria Templar. Kekejaman Reynald kondang di seluruh Jerusalem. Ia menentang kaisar Konstantinopel dan beberapa kali memerasnya. Perilakunya ini ditentang oleh Patriarch Konstantinopel yang pernah dipenjarakan oleh Reynald. Reynald mempunyai kebiasaan menorah-noreh kepala orang yang tidak disukainya, kemudian membubuhi luka itu dengan madu. Ia kemudian mengikat orang itu lalu ditempatkan di atas suatu rumah untuk membiarkan burung-burung mematuki kepala orang yang malang itu sampai mati karena menderita kesakitan. Reynald tertawan dalam pertempuran di Tanduk Hatiin pada tanggal 4 Juli 1187, dan oleh Salahuddin al Ayyubi dijatuhi hukuman pancung karena kejahatan perangnya.

Tanggal 4 Juli 1187 merupakan palagan paling dahsyat dan paling berdarah dalan sejarah Perang Salib – Palagan Tanduk Hattin. Medan palagan itu disebut Hattin karena adanya dua buah pilar karang yang menjulang setinggi kurang-lebih 30 meter di atas padang belukar lereng-lereng lembah Tiberius di laut Galilee. Di medan inilah Salahuddin al Ayyubi, panglima muslim dari Kurdi, menggelar 12.000 orang ksatrianya dan sejumlah yang sama lagi pasukan dari kafilah logistiknya di Tiberius. Pihak ordo Templar dan Hospitaller pasukan Salib mengerahkan pasukan apa saja yang dapat mereka rekrut, terdiri dari 20.000 orang infanteri dan kurang lebih 1.000 orang ksatria berkuda. Bala-tentara Salib ini merupakan hasil pengumpulan segenap pasukan yang ada di kota-kota, membuat Jerusalem kosong dari pertahanan.

Pasukan Salib bergerak menuju Tiberius pada saat subuh tanggal 3 Juli 1187. Mereka juga mengusung relic pusaka Salib Suci (yang dipercayai sebagai tiang kayu untuk menyalib Jesus) dengan harapan akan membawa berkat dari Tuhan.



Ketika mereka melakukan mars di padang pasir yang panas itu mereka tidak berhasil berjumpa dengan sumber air untuk mengatasi dahaga mereka, dan mereka yang mengenakan zirah lebih-lebih lagi menderita, baik karena beratnya beban maupun karena panasnya baju besi mereka. Sesudah maghrib pada tanggal 3 Juli 1187 itu mereka baru mencapai tujuan di sebuah plateau di bawah tanduk Hattin. Di daerah persiapan ini pun pasukan Salib tidak menemukan sumber air, atau sumur. Sungai kecil pun kering. Ketakutan menghinggapi bala-tentara Salib dan firasat akan tibanya bencana menyapu perasaan mereka. Pangeran Tripoli yang isterinya tertawan hanya beberapa kilometer jauhnya dari tempat itu melompat dari pelana kudanya meneriakkan permohonan kepada Tuhan, “Ya Tuhan, perang ini sudah berakhir. Kami kini tidak lain telah menjadi orang mati, dan Kerajaan-mu pun akan berakhir.”

Malam itu pasukan Salib tidak bisa tidur karena kekurangan air. Beberapa orang karena kebodohannya menuruni plateau mencari air, untuk kemudian menerima nasib malang mereka, ditangkap dan dihabisi oleh pasukan muslim. Untuk menambah penderitaan yang sudah ada pasukan muslim membakar rerumputan dan belukar yang ada disekitar perkemahan pasukan Salib. Seluruh kawasan perbukitan itu menyala terbakar menambah udara panas yang sudah tidak tertahankan, api menjilati tepi-tepi perkemahan dan pasukan berzirah justru yang paling menderita.

Setelah shalat subuh tanggal 4 Juli 1187 pasukan Salahuddin mengepung posisi pasukan Salib. Begitu ketat pengepungan itu, sejarawan dari pasukan Salib menuliskan di dalam catatannya, “Bahkan kucing pun tidak akan dapat lolos dari jerat itu.” Ketika fajar menyingsing, serunai dari pasukan muslim berbunyi menandakan serbuan dimulai. Pasukan Salib yang terkepung menyerang dengan membabi-buta. Melihat pasukan Kristen menyerang, pasukan Salahuddin tidak membalas. Mereka malah membuka barisan mereka membentuk huruf “U” membiarkan pasukan Salib lewat. Begitu bukaan itu ditutup kembali, maka pasukan Salib itu menemukan ajal mereka.



Pasukan muslim sesudah itu melancarkan serangan bertubi-tubi menghabisi pasukan Kristen. Pasukan Salib memberikan perlawanan tanpa mampu berbicara, dan satu demi satu mereka dihabisi pedang pasukan Salahuddin. Ketika pertempuran masih berlangsung, sisa-sisa ksatira Salib berhimpun di sekitar kemah raja Guy. Putera Salahuddin ketika melihat sejumlah kecil pasukan Salib berhimpun di sekitar kemah Guy, berteriak memanggil ayahandanya bahwa kaum kafir telah dihabisi. Ayahandanya menjawab, selama kemah itu belum rebah perang belum dimenangkan, habisi mereka! Di dalam kemahnya Guy yang sedang gemetar memegang erat-erat Salib Suci-nya. Seorang prajurit muslim masuk dan menyerang himpunan ksatria Salib yang tersisa, dan tidak lama kemudian kemah itu rebah rata dengan tanah..

Para panglima dan komandan pasukan Salib yang masih hidup ditawan dan dikumpulkan di perkemahan Salahuddin. Seorang komandan pasukan muslim rupanya telah mendirikan sebuah kemah khusus untuk maksud itu. Prajurit rendahan Kristen dijadikan budak. Konon dicerirtakan, seorang prajurit muslim begitu banyak mendapat budak tawanan, ia menawarkan untuk menukar seorang tawanannya dengan sepasang sepatu. Terhadap ksatria Templar, Salahuddin tidak memberikan pengampunan, kecuali terhadap pimpinannya, Gerard de Ridefort. Setiap ksatria Templar dan Hospitaller dipaksa bertekuk lutut untuk kemudian dipancung oleh seorang algojo muslim.



Di kemahnya Salahuddin membebaskan para pangeran yang tertawan dengan uang tebusan yang tinggi. Raja Guy dari Jerusalem yang kehausan dan ketakutan bertiarap di tanah memohon air. Salahuddin memberinya semangkok air dan Guy meminumnya tergopoh-gopoh. Guy menawarkan air itu kepada Reynald yang terus memandang ketika Guy minum. Salahuddin melihat keadaan itu segera bangkit dari tempat duduknya dan menendang mangkok air dari tangan pangeran Antiochia itu. Tradisi perang memang demikian. Bila sang pemenang mengizinkan seseorang minum air dari mangkok miliknya, hal itu menjadi isyarat bahwa nyawanya selamat. Tetapi rupanya tidak demikian halnya dengan Reynald. Keputusan hukuman mati baginya telah menjadi kenyataan.

Kemurkaan Salahuddin tidak terbendung, karena Reynald menghujat Nabi Muhammad, Junjungan kaum muslimin. Salahuddin menghunus pedangnya dan sekali tebas memotong salah satu lengan Reynald. Sebelum lengan yang jatuh itu mencapai tanah, seorang prajurit muslim menebas leher Reynald, sehingga kepala itu terlepas dari badannya. Pada saat itu Salahuddin menoleh kepada raja Guy dari Jerusalem dan berucap, “Jangan takut, tidak ada kebiasaan seorang raja membunuh raja.” Raja Guy dibebaskan setahun kemudian pada tahun 1188 dari penjara Nablus sebagai seseorang yang sudah kehilangan harapan hidup, begitu juga para ksatria Templar dan Salib yang dikalahkan di Palagan Hattin. Sultan Salahuddin Al Ayyubi meninggal di Damsyik pada usia 55 tahun. Adiknya Sultan Al Malikul Adilsyah Al Ayyubi berhasil menyatukan seluruh kerajaan-kerajaan kecil Islam yang ada untuk menghadapi bala-tentara Salib.

Setelah kehancuran bala-tentara Salib pada Palagan Hattin dalam Perang Salib yang Ketiga mereka tinggal menguasai tiga kerajaan, yakni Tyre, Tripoli, dan Antiochia, dan sesudah itu bala-tentara Salib tidak mampu lagi menghimpun kekuatan yang berarti untuk merebut kembali Jerusalem.

No comments: